Oleh Anita Karjo
Misa Malam Natal, dua puluh empat Desember berlangsung dengan khidmat dan lancar. Misa dipersembahkan oleh Pastor Yohanes Sumardi OSC pada pukul delapan malam. Gereja Paroki Theodorus dipenuhi banyak umat yang hadir. Aturan protokol kesehatan tetap dijalankan dengan tertib. Umat mendaftar, mencuci tangan, memakai masker selama misa dan duduk berjarak. Tatib mengatur umat.
Semua dijalankan dengan cermat tanpa mengurangi kekhusyukan jalannya ibadah. Selain umat dan para petugas tertib melakukan prokes, di luar Gereja ada para aparat keamanan menjaga dengan sukacita sehingga umat merasa aman dan nyaman.
Misa diawali dengan renungan adven, tak lama kemudian datang sepasang suami istri membawa bayi Yesus yang diletakkan di kandang Natal. Seiiring terdengar merdu suara koor dari sisi kanan, menyanyikan lagu pembukaan Slamat slamat datang Yesus Tuhan ku. Paduan Suara STC (St Theodore’s Choir) yang mengiringi sepanjang Misa dengan pujian indah. Malam ini Tuhan datang dan hadir mempersatukan saudara dan saudari. Sabda telah menjadi daging, dunia menjadi cemerlang. Kristus lahir bagi kita. Allah mengasihi kita.
Kemudian Pastor Sumardi dengan kasula putih mendupai altar. Bersamaan dengan itu,umat mendaraskan Kemuliaan kepada Allah di Surga. Sungguh indah suasana Gereja malam itu.
Liturgi Sabda dimulai dengan bacaan pertama, dibacakan dari Kitab Yesaya, pasal Sembilan. Ia adalah Penasihat Ajaib, Allah Yang Perkasa, Bapa Yang Kekal dan Raja Damai. Mazmur tanggapan: Hari ini telah lahir bagi kita, seorang Juruselamat yaitu Kristus Tuhan. Setelah bacaan ke dua yang diambil dari Surat Rasul Paulus kepada Titus, maka dibacakan Injil suci dari Injil Lukas. Yang berkisah tentang kelahiran Bayi Yesus di kota Betlehem. Para Malaikat mengabarkan kepada para gembala di Padang sunyi.
Pastor Sumardi mengawali homilinya dengan lagu Nina bobo bersama koor. Natal adalah getaran Cinta Allah yang memeluk batin manusia. Sungguh indah cinta Nya Allah pada manusia. Dia datang sebagai bayi mungil, tertidur nyenyak di dalam palungan. Hal ini menyiratkan kasih Allah yang mendalam, pelukan cinta kasih untuk batin yang sedang gundah gulana. Seakan Allah berkata jangan takut, jangan resah, jangan khawatir, jangan galau lagi kepada manusia, ini Aku datang untuk memberikan pelukan kasih sayang sehingga orang akan merasa nyaman.
Para Malaikat yang memuji Allah di Surga datang kepada gembala yang sedang asik menjaga ternaknya di padang gurun sunyi. Para gembala adalah gambaran orang kecil dan sederhana, kaum yang termarginalkan dalam masyarakat, mungkin batinnya menangis karena kesulitan hidup. Kontras sekali, berita besar, kabar sukacita yang spekta dikabarkan kepada orang sederhana. Kita diajak untuk ingat pada peristiwa awal penciptaan. Kita semua lahir ke dunia ini sebagai ciptaan Tuhan
yang indah sebagai bayi. Sebagai hadiah yang terindah dari surga. Allah rela menjadi
manusia. Allah datang untuk memeluk manusia ciptaan Nya dengan Cinta Nya
yang tanpa syarat.
Gembala di padang simbol kaum yang menghadapi perjuangan hidup yang keras dan batin yang menangis. Allah ingin memeluk, ingin merangkul orang-orang yang menderita, yang hidupnya sulit. Itulah makna Natal yang sesungguhnya. Allah ingin kita bisa mengalirkan cinta Tuhan kepada sesama. Hidup berbagi kasih. Mau mengulurkan tangan kepada orang-orang yang sedang dalam kesulitan. Sebagai pembawa kabar sukacita dari Allah. Allah ingin menghentikan tetesan air mata dan Dia ingin kita menjadi lengan Nya untuk memeluk dengan getaran cinta kasih Tuhan.
Untuk dapat melakukan tugas Ilahi tersebut, maka kita harus dipenuhi oleh Cinta Nya. Sulit untuk mencintai orang lain, jika kita belum mencintai diri kita sendiri. Kita harus diubah menjadi serupa dengan Kristus saudara Sulung kita.
Natal menjadi berkat tak ternilai bagi umat manusia. Menyatukan surga dan bumi. Para malaikat di Surga turun naik dan Surga terbuka sehingga Cahaya Ilahi turun menerangi kegelapan dunia. Maukah kita menjadi pembawa kabar sukacita? Menyambut Tubuh Kristus dalam Ekaristi menjadi pengalaman indah selanjutnya. Inilah Allah yang menjadi manusia. Allah yang kita sambut dalam kegembiraan dan penuh rasa syukur berlimpah. Misa malam Natal ini sungguh menyentuh hati. Apalagi dengan iringan lagu pujian indah dari STC yang melayani dengan penuh sukacita dengan nuansa merah. Selamat merayakan Hari Raya Natal. Bukan hanya di bulan Desember tapi juga di hari-hari yang akan datang.

