
Pada Sabtu, 13 September 2025, Komisi Kateketik Keuskupan Bandung menyelenggarakan Hari Studi Katekis dan Aktivis Bidang Pewartaan dengan tema: “Kembali ke Akar: Menentukan Jati Diri Kristiani melalui Inisiasi.”
Acara ini menghadirkan narasumber utama yang sangat berkompeten, yaitu Romo Prof. Emanuel Pranawa Dhatu Martasudjita, PR, Guru Besar Teologi lulusan Universitas Innsbruck, Austria, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Badan Pengawas Asosiasi Filsafat Indonesia.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Romo Vincentius Dwi Sumarno, PR selaku Ketua Komisi Kateketik Keuskupan Bandung, dan dipandu oleh Romo Paulus Rusbani Setyawan, PR sebagai moderator.
Berikut adalah rangkuman butir-butir penting dari materi yang dibawakan.
1. Inisiasi Sebagai Fenomena Sosial dan Eklesial
Secara antropologis, inisiasi merupakan bagian dari dinamika kehidupan masyarakat. Setiap komunitas memiliki ritus peralihan yang memperkenalkan anggota baru pada identitas dan nilai-nilai bersama.
Kata initiato (Latin) yang berasal dari initiare/inire berarti “memulai” atau “masuk”. Dalam Gereja, inisiasi terwujud melalui tiga sakramen yang tidak dapat dipisahkan: Baptis, Penguatan (Krisma), dan Ekaristi pertama. Ketiganya membentuk kesatuan yang mengantar seseorang masuk ke dalam hidup Kristiani secara penuh.
2. Sejarah dan Perkembangan Teologis
Pada zaman Perjanjian Baru, praktik inisiasi belum seragam (lih. Kis 2:38; 8:17). Seiring sejarah, muncul perbedaan antara tradisi Barat dan Timur.
- Gereja Barat menekankan partisipasi dalam Misteri Paskah — wafat dan kebangkitan Kristus.
- Gereja Timur menekankan divinisasi, yakni pengangkatan manusia sebagai anak Allah.
Meski berbeda penekanan, keduanya sepakat bahwa sakramen inisiasi adalah jalan masuk ke dalam persekutuan dengan Allah Tritunggal melalui Kristus dalam Roh Kudus.
Teologi inisiasi dapat dipahami dalam enam dimensi:
- Trinitaris: mengantar manusia pada persekutuan dengan Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
- Kristologis: mempersatukan umat dengan Misteri Paskah Kristus.
- Pneumatologis: pencurahan Roh Kudus sebagai sumber kekuatan iman.
- Eklesiologis: menjadikan umat bagian dari Tubuh Kristus, Gereja.
- Liturgis: dihayati dalam perayaan sakramental.
- Antropologis: memperbarui manusia secara utuh.
3. Makna Air dalam Sakramen Baptis
Air adalah simbol yang kaya makna dalam Kitab Suci. Kitab Kejadian dibuka dengan gambaran air (Kej 1:2), dan Kitab Wahyu ditutup dengan sungai air kehidupan (Why 22:1).
Dalam tradisi iman, air memiliki empat arti pokok dalam kaitannya dengan baptis:
- Kehidupan dan keselamatan – tanpa air tidak ada kehidupan; demikian pula tanpa rahmat Allah tidak ada keselamatan (Kej 2:10).
- Kematian – air bah (Kej 6–9) dan Laut Merah (Kel 14–15) menyingkapkan air sebagai kuasa pemusnah. Baptis berarti mati terhadap dosa.
- Kebebasan – pembebasan Israel melalui Laut Merah menunjukkan air sebagai sarana kemerdekaan untuk beribadah kepada Allah (Kel 4:22–23).
- Kemurnian – Yes 1:16–17 menegaskan air sebagai tanda pembersihan dari dosa.
St. Basilius menegaskan: air menerima tubuh manusia sebagai kubur, sedangkan Roh memberi hidup baru. Inilah makna “dilahirkan dari air dan Roh” (Yoh 3:5): tubuh dosa dimatikan, Roh membangkitkan untuk hidup dalam kekudusan.
4. Sakramen Baptis
Baptis adalah pintu gerbang sakramen: darinya manusia diampuni dosa, dilahirkan kembali, dan digabungkan dalam Gereja (lih. KGK 1213). Konsili Trente menegaskan baptisan diperlukan untuk keselamatan, namun Gereja juga mengakui votum baptismi (keinginan akan baptis) dan baptismus sanguinis (baptisan darah) sebagai jalan rahmat Allah.
Mengenai baptisan bayi, meski sering diperdebatkan, sejak abad-abad awal (Origenes, Siprianus) praktik ini diterima luas. Baptisan bayi menegaskan bahwa keselamatan adalah anugerah murni Allah, bukan semata hasil pilihan sadar manusia. Gereja menjamin iman anak yang dibaptis dan mendampingi pertumbuhan imannya.
5. Sakramen Penguatan (Krisma)
Penguatan melanjutkan karya Baptis. Melalui pengurapan minyak krisma dan sabda “Accipe signaculum Doni Spiritus Sancti”, umat diteguhkan oleh Roh Kudus (lih. KGK 1285).
- Gereja Timur memandang Krisma sebagai bagian tak terpisahkan dari Baptis.
- Gereja Barat menekankan Krisma sebagai perutusan dan kesaksian iman yang dewasa.
6. Sakramen Ekaristi
Ekaristi adalah puncak dan sumber hidup Kristiani (SC 10).
- Doa Syukur Agung menghadirkan misteri wafat dan kebangkitan Kristus.
- Komuni suci menyatukan umat dalam Tubuh Kristus.
St. Yohanes Paulus II menyebut adorasi Ekaristi sebagai “harta tak ternilai bagi Gereja” (EE 25), sedangkan Paus Fransiskus menekankan doa adorasi sebagai “nafas Gereja” (EG 262). Melalui devosi Ekaristi, umat dipanggil menghidupi kesatuan dengan Kristus dalam doa dan pelayanan.
7. Kesimpulan
Ketiga sakramen inisiasi — Baptis, Krisma, dan Ekaristi — membentuk satu kesatuan integral.
- Baptis: melahirkan kembali dalam Kristus.
- Krisma: meneguhkan dengan Roh Kudus.
- Ekaristi: menyatukan umat dengan Tubuh Kristus serta meneguhkan panggilan misioner.
Seluruh proses ini menyingkapkan rahmat Allah yang menginisiasi, menyelamatkan, dan mengutus umat-Nya ke tengah dunia.

Foto bersama: Romo Prof. Emanuel Pranawa Dhatu Martasudjita, PR; Romo Vincentius Dwi Sumarno, PR; dan Romo Paulus Rusbani Setyawan, PR.
Oleh : SKukuh W Soeparno
