Kerajaan Seribu Tahun

Pada Hari Sabtu, 6 September 2026, diadakan seminar bertema “Kerajaan Seribu Tahun ” di Pastoral St. Theodorus. Seminar berlangsung dari pukul 08.30 – 12.30. Seminar dibawakan oleh Romo R. Fransiskus Bhanu Viktorahadi. Acara dihadiri 63 orang dari berbagai paroki.

08.30-09.00: Pendaftaran ulang dan sambutan Peserta seminar melakukan pendaftaran ulang yang dilanjutkan dengan sambutan Romo Bhanu. Acara dimulai dengan pemukulan gong.

09.00-10.00: Sesi 1 oleh Romo Bhanu Konsep seribu tahun diawali dari pertanyaan, apakah ada dunia tanpa adanya kejahatan. Periode Seribu tahun ini muncul pertama kali dalam Kitab Wahyu (Pasal 20:1-3). Kerajaan seribu tahun yaitu ruang waktu/tempat dimana keadilan akhirnya ditegakkan bagi umat manusia sebelum penghakiman terakhir. Pada Awal masa seribu tahun, setan-setan dipenjara dan terjadi “Kebangkitan Pertama”. Lalu pada akhir masa ini setan dilepaskan dan terjadi penghakiman untuk orang yang akhirnya akan mendapat kehidupan. Lalu makna 1000 tahun bukan berarti 1000 tahun dalam kalender manusia namun sebagai simbol yang menunjukan waktu yang sangat lama dan memiliki batas waktu yang jelas. Angka 1000 juga merupakan angka bagus sehingga orang mudah membayangkan seberapa lama waktunya. Kitab Wahyu bukan untuk memberi ketakutan/kepanikan tetapi sebagai cara untuk bertahan hidup di Masa yang kelam. Dalam Kitab Wahyu juga dijelaskan bahwa para martir bersama Allah diberikan Tahta untuk ikut menghakimi dunia. Yohanes ingin menunjukan penghargaan tertinggi terhadap pengorbanan tertinggi. Pada Sesi 1 ini hal-hal yang dapat kita peroleh yaitu:

  • Mereka yang melakukan pengorbanan tertinggi mendapatkan hadiah yang tertinggi (integritas)
  • Mereka yang melakukan pengorbanan mendapat upahnya yang adil. Penderitaan hanya sebentar sehingga keadilan akan menang (keadilan)
  • Janji bahwa penderitaan seberat apa pun memiliki batas waktu, dan keadilan pada akhirnya akan menang.(harapan).
10.00-10.15: Istirahat
10.15-11.30: Sesi 2 oleh Romo Bhanu 
Sebelum kedamaian, ada kekacauan. Namun Tuhan tidak membiarkan kekacauan yang menang. Iblis yang disimbolkan sebagai “Ular tua”, “Naga” pada akhirnya akan dirantai, dikunci di jurang maut, dan pada akhirnya disegel diatasnya. Pada Wahyu 20:7-10) dijelaskan bahwa setan dilepaskan dan menyesatkan Gog dan Magog yang akhirnya mengelilingi perkemahan tentara Tuhan dan “kota yang dikasihi”. Lalu api turun dari langit dan memunaskan Gog dan Magog namun tidak membinasakan Iblis. Ini menunjukan dalam kehidupan sehari hari meskipun kita merasa berhasil menghadapi niat jahat. Namun Iblis tidak berhenti untuk menjauhkan kita dari Tuhan. Dalam membaca kitab Wahyu, kita harus membacanya dengan lensa harapan dan melihatnya sebagai surat cinta sebagai pengingat bagi kita untuk terus berjaga jaga. Pada akhir masa Kerajaan seribu tahun akan datang penghakiman, penghakiman bukan berarti balas dendam, melainkan keadilan yang memulihkan. Kerajaan seribu tahun dapat dilihat dari 4 lensa. Lensa pertama yaitu Amilenialisme yang berarti kerajaan Itu sudah hadir di sini, di dalam hati kita. Lensa kedua yaitu Postmilenialisme yang berarti masa damai ini tidak turun dari langit secara ajaib, melainkan dibangun perlahan melalui aksi nyata umat manusia. Lensa ketiga yaitu Premilenialisme Historis yang berarti damai sejahtera sejati terjadi setelah Yesus datang Kembali. Lensa keempat yaitu Premilenialisme Dispensasional yang berarti proses penyelamatan dan pemulihan dua tahap.  

Melalui Seminar ini, ada hal yang bisa didapat yaitu: 

  • Mulailah ciptakan masa damai sejahtera dari Skala terkecil: keluarga, tempat kerja, dan komunitas Anda.
  • Ingatlah bahwa penderitaan memiliki batas akhir. Kejahatan sedang menunggu waktu untuk sirna selamanya.
  • Daripada berdebat tentang kapan akhir dunia tiba, alihkan energi kita pada bagaimana kita mengasihi sesama secara nyata sebelum saat itu tiba 
Setelah Sesi 2, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab daro jam 11.30-12.00 Setelah sesi tanya jawab, kegiatan berlangsung dengan makan siang dari jam 12.00-12.30. Setelah makan siang, acara selesai dan peserta meninggalkan aula.
 

Oleh : Wilfridus Juan Christo Benedict 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *