Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi (1965–2025)

“Allah berkenan menyingkapkan diri-Nya dan menyatakan rahasia kehendak-Nya, agar manusia dalam Kristus, Sang Sabda yang menjadi manusia, dapat datang kepada-Nya dan mengambil bagian dalam kodrat ilahi.”
(Dei Verbum 2)
Lebih dari itu, Dei Verbum menegaskan bahwa Allah sendiri adalah awal sekaligus tujuan hidup manusia. Dari Dia kita berasal, dan kepada-Nya pula kita kembali. Seluruh wahyu dan Sabda-Nya bertujuan agar manusia menemukan jalan keselamatan dan kebahagiaan sejati dalam Allah.
Mari kita kembali menengok isi Dei Verbum: merenungkannya, membiarkan hati kita dipenuhi oleh Sabda Allah, dan jatuh cinta lagi kepada Firman yang hidup — Sang Sabda yang menuntun kita kepada tujuan akhir: persatuan abadi dengan Allah.
Wahyu Ilahi: Allah yang Mendekat dan Menjadi Tujuan Hidup Manusia
Pada 18 November 1965, Gereja Katolik menghadirkan sebuah dokumen bersejarah: Dei Verbum — Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang Wahyu Ilahi.
Kini, 60 tahun kemudian, kita diajak bukan hanya mengenang teksnya, tetapi juga membuka kembali harta rohani yang terkandung di dalamnya, agar iman kita diperbarui oleh Sabda Allah.
Allah yang Menyatakan Diri-Nya
Bab pertama Dei Verbum berbicara tentang Wahyu Ilahi. Allah bukanlah sosok yang jauh dan tertutup, melainkan Allah yang mendekat, menyapa, dan berbicara. Ia menyingkapkan rahasia hati-Nya agar manusia dapat mengenal, mencintai, dan bersekutu dengan-Nya.
Wahyu bukan sekadar informasi tentang Allah, tetapi perjumpaan pribadi dengan Dia yang hidup.
Wahyu itu terjadi dalam sejarah: melalui peristiwa dan sabda, Allah menuntun umat-Nya secara bertahap. Puncaknya terjadi dalam diri Yesus Kristus, Sang Sabda yang menjadi manusia. Melalui hidup, karya, wafat, dan kebangkitan-Nya, Yesus menyingkapkan wajah Allah yang penuh kasih. Dialah Kabar Gembira itu sendiri — bukan hanya pewarta, tetapi isi pewartaan.

Allah: Awal dan Tujuan Hidup Manusia
Salah satu ajaran mendalam dari Dei Verbum (artikel 6) ialah bahwa Allah sendiri adalah awal sekaligus tujuan hidup manusia.
Kita berasal dari Allah, diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya, dan akhirnya akan kembali kepada-Nya. Wahyu Ilahi adalah undangan kasih, agar manusia tidak tersesat di tengah dunia, tetapi tiba pada tujuan sejati: persatuan abadi dengan Allah.
Dokumen ini juga mengingatkan bahwa kekuasaan dan keilahian Allah dapat dikenali melalui ciptaan. Maka manusia “tidak memiliki alasan” untuk tidak mengenali-Nya.
Sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci:
“Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan.”
(Roma 1:20)
Ciptaan itu sendiri menjadi tanda yang menyingkapkan keberadaan dan kasih Allah.
Menjawab dengan Iman
Wahyu Ilahi menuntut jawaban, dan jawaban itu adalah iman.
Iman berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah yang menyapa — bukan hanya menerima ajaran, tetapi percaya dengan hati, berharap pada janji-Nya, dan mengasihi Dia yang telah lebih dahulu mengasihi kita.
Seperti Abraham yang berani meninggalkan tanah asalnya karena percaya pada janji Allah, kita pun dipanggil berjalan dalam terang Sabda-Nya, meski jalan itu kadang misterius.
Iman adalah ketaatan kasih — menerima Allah sebagai sumber hidup dan tujuan akhir perjalanan kita.
Ajakan untuk Membaca Dei Verbum
Enam puluh tahun berlalu sejak Dei Verbum diterbitkan, namun pesannya tetap hidup dan relevan.
Dokumen ini tidak pernah usang, sebab di dalamnya Gereja menuntun umat untuk kembali kepada sumber iman: Sabda Allah sendiri.
Melalui Dei Verbum, kita diajak membuka Kitab Suci bukan hanya dengan pikiran, tetapi juga dengan hati yang siap mendengarkan. Di sana, Tradisi Gereja tampak bukan sebagai beban masa lalu, melainkan sebagai aliran kehidupan yang terus memancar dari Kristus.
Dalam peringatan 60 tahun ini, marilah rasa syukur kita tidak berhenti pada kenangan, melainkan menjadi langkah nyata untuk membaca dan merenungkan kembali Dei Verbum.
Semakin kita menelusuri setiap babnya, semakin jelas arah Gereja dalam menuntun umat menuju kedalaman iman.
Biarlah pesan Bab I kembali menyentuh batin kita:
Allah adalah Allah yang mendekat, Allah yang berbicara, dan Allah yang menuntun perjalanan manusia — dari awal penciptaan hingga puncak tujuan hidup: persatuan abadi dengan-Nya.
Penutup
Setiap orang mencari arah hidup, pegangan, dan tujuan. Dei Verbum mengingatkan bahwa arah itu tidak ditemukan dalam kebisingan dunia, melainkan dalam mendengarkan Sabda Allah yang menghidupkan.
Seperti dikatakan Rasul Paulus:
“Ciptaan menunjukkan Allah yang memanggil kita untuk mengenal-Nya.” (bdk. Roma 1:20)
Semakin kita membuka diri terhadap wahyu-Nya, semakin kita menemukan arti terdalam hidup ini: berasal dari Allah, berjalan bersama-Nya, dan kembali kepada-Nya.
Oleh : SKukuh W Soeparno

Sekedar saran :
ALLAH Bapa jangan digambarkan seperti manusia karena Allah Bapa adalah Roh..