Kasih yang Membungkuk Rendah: Ibadah Komunitas Kerahiman Ilahi St. Theodorus

Setiap Sabtu setelah Misa pagi, Komunitas Kerahiman Ilahi St. Theodorus (KKI) berkumpul dalam doa dan pujian melalui Ibadah Kerahiman Ilahi. Pada 31 Agustus 2025, ibadah tersebut mengangkat tema dari Catatan Harian Santa Faustina no. 460.

Meskipun jumlah devosan yang hadir terbatas, semangat doa tetap terjaga. Ritus khusus berupa pembakaran intensi doa yang telah dituliskan, serta doa khusus untuk para imam, menjadi momen yang menyentuh hati. Walau sederhana, para devosan tetap setia melaksanakan Ibadah Kerahiman Ilahi dengan penuh penghayatan.


Kasih yang Membungkuk Rendah

“Ya Yesus, jantungku serasa berhenti berdenyut ketika aku memikirkan semua yang Kaulakukan bagiku! Aku heran akan Dikau, Tuhan, mengapa Engkau membungkuk begitu rendah kepada jiwaku yang jahat! Sungguh tak terselami sarana-sarana yang Kaupakai untuk menyakinkan aku!”
(Catatan Harian Santa Faustina no. 460)

Santa Faustina menuliskan kata-kata ini bukan dari teori, melainkan dari pengalaman pribadi: pengalaman tersentuh oleh kerendahan hati Yesus. Ia merasa hina dan penuh kelemahan, tetapi justru di sanalah ia menemukan betapa Yesus tidak menjauhinya, melainkan membungkuk rendah untuk merangkulnya.

Kita pun sering merasa tidak layak di hadapan Tuhan. Masa lalu yang gelap, kelemahan yang berulang, dan dosa yang membuat kita malu sering kali menimbulkan pikiran: “Mungkin Tuhan sudah bosan dengan aku.” Namun pengalaman Faustina membuktikan sebaliknya: Allah justru semakin mendekat, semakin menunduk, untuk meyakinkan kita bahwa kasih-Nya lebih besar dari kelemahan kita.

Yesus sendiri berkata: “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa, supaya mereka bertobat.” (Luk 5:32). Inilah jantung kerahiman Allah: kasih yang tidak menunggu kita sempurna, tetapi kasih yang rela turun dan merendahkan diri agar kita percaya bahwa kita dikasihi.


Ilustrasi Singkat

Bayangkan seorang ayah yang melihat anak kecilnya jatuh ke dalam lumpur. Anak itu kotor, menangis, dan tidak bisa berdiri sendiri. Apakah sang ayah akan berdiri jauh sambil berkata, “Kalau kamu sudah bersih, baru aku angkat”? Tentu tidak! Seorang ayah yang penuh kasih akan berlari, menunduk, bahkan rela ikut kotor demi mengangkat anaknya.

Itulah yang dilakukan Yesus. Ia tidak jijik dengan kelemahan kita. Ia tidak menunggu kita bersih dulu. Ia justru merendahkan diri, turun ke dalam lumpur hidup kita, supaya kita bisa bangkit kembali dalam pelukan-Nya.

Kasih Tuhan sering bekerja dengan cara-cara sederhana yang kadang tidak kita sadari: lewat seorang teman yang hadir di saat kita paling butuh, lewat teguran yang membuka mata, lewat doa yang dikabulkan dengan cara tak terduga, atau bahkan lewat penderitaan yang mendekatkan kita pada-Nya. Semua itu adalah sarana yang Tuhan pakai, sebagaimana dialami Santa Faustina: sarana yang “tak terselami” untuk meyakinkan kita.


Marilah Kita Belajar dari Santa Faustina

  • Untuk selalu kagum pada Tuhan, meski lewat hal-hal kecil.
  • Untuk percaya bahwa kasih Allah tidak terbatas pada logika kita.
  • Untuk berani membuka hati, meski merasa hina, karena justru di sanalah Yesus ingin masuk.

Doa

Yesus yang Maharahim, Engkau rela membungkuk rendah demi mengangkatku.
Jangan biarkan aku terjebak dalam rasa tidak layak, tetapi tuntunlah aku agar selalu percaya pada kasih-Mu.
Biarlah aku hidup dalam rasa syukur dan kekaguman, serta mampu menjadi saksi belas kasih-Mu bagi sesamaku. Amin.


Ritus Pembakaran intensi Doa.

Membawakan Renungan Singkat.

Ditulis oleh: Skukuhw Soeparno

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *