Sejarah merupakan bagian integral (utuh) tidak terpisahkan dari kehidupan kita sebagai manusia berakal budi. Kata sejarah sendiri berasal dari kata Arab “syajarotun” yang artinya pohon. Hal tersebut mengandaikan kita sebagai pelaku sejarah untuk mengenali akar, batang, bunga, serta buah pohon keluarga serta kehidupan kita. Kata sejarah itu sendiri dalam bahasa Inggris berinduk pada akar kata Latin Yunani “histor” yang berarti learned man, wise man, manusia bijaksana. Hal tersebut menunjukkan pentingnya manusia mengenali sejarah diri sendiri dari mana berasal (akar) dan ke mana tujuannya (buah) dengan menggunakan akal budi serta hati nuraninya agar semakin bijaksana dalam peradabannya. Ada pepatah the history repeat itself, yang artinya dimana bila kita sebagai manusia tidak mau belajar dari sejarah diri sendiri maupun sejarah orang lain maka manusia akan mengulang kesalahan yang sama, reset mulai dari nol lagi, tidak bertumbuh.
Saat ini kita, umat beriman di paroki St Theodorus Sukawarna Bandung, sedang merayakan lustrum pertama atau ulang tahun paroki yang ke lima tahun. Sejarah panjang suatu paroki atau institusi atau seseorang biasanya dipahami sebagai rentetan titik-titik peristiwa penting atau milestone (tonggak) dalam perjalanan kehidupan umat beriman di paroki, institusi, pribadi tersebut. Titik- titik tersebut secara intuitif akan bisa ditarik garis lurus yang menggambarkan proyeksi atau gambaran masa depan ke arah mana paroki kita tercinta ini berjalan membentuk sejarah masa depan.
Dalam Warta Theodorus edisi ini, para pembaca dan umat paroki tercinta diajak untuk tidak sekedar bernostalgia dalam mengingat titik-titik sejarah namun melampaui romantisme masa lampau dengan berefleksi atas kejadian-kejadian sejarah yang telah membentuk kehidupan kita sebagai umat beriman paroki serta berpikir kritis menggali pesan-pesan wasiat sejarah yang akan menentukan masa depan paroki kita ini.
Dalam bahasa liturgi, pembaca diajak untuk ber-‘”anamnese” yaitu mengenang sekaligus menghadirkan kembali, pengalaman sejarah umat beriman di paroki ini serta menantang untuk berefleksi sejauh apa iman menggerakkan kita untuk terlibat mengembangkan Bunda Gereja dalam tuntunan Roh Kudus.
Bila kita boleh meluangkan sedikit waktu hening berefleksi jauh ke belakang dari sejarah awal umat beriman mengenal Allah, maka kita boleh bersyukur mewarisi sejarah pengalaman iman Bapa Abraham serta perjalanan sejarah umat Perjanjian Lama dalam mengenal Allah, pencipta langit dan bumi serta segala isinya. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Kelahiran, karya, sengsara, wafat, dan kebangkitan Putra Allah, Sang Sabda Ilahi, Tuhan kita Yesus Kristus dalam sejarah manusia dua ribu tahun yang lalu tersebut telah memulai babak baru sejarah umat Perjanjian Baru dalam mengenal Allah yang adalah kasih dan mengasihi seluruh umat manusia. Para rasul dan murid-murid yang hidup bersama dengan Tuhan Yesus sepanjang sejarah Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik hingga saat ini telah mewariskan banyak tanda dan sarana yang mengejawantahkan kasih Allah kepada kita dalam rupa sakramen-sakramen kudus serta pelayanan sosial gereja. Hingga pada akhirnya, dalam perjalanan sejarah, melalui para misionaris dan orang kudus serta para martir yang dengan tabah serta semangat mewartakan kabar gembira kasih Allah tersebut sampai ke bumi tercinta Nusantara. Puji Tuhan, akhirnya umat beriman di paroki St Theodorus menerima juga Kabar Gembira peristiwa keselamatan tersebut.
Paroki St Theodorus berawal dari sebuah stasi paroki Santa Perawan Maria Sapta Kedukaan, Pandu, Bandung. Pada tahun tujuh puluhan Yayasan Universitas Katolik Parahyangan Bandung membeli sebidang tanah di kampung Cibogo Bawah, Kelurahan Sukawarna, Kecamatan Sukajadi, Bandung. Tanah tersebut direncanakan untuk perumahan karyawan Universitas Katolik Parahyangan Bandung . Dengan pertimbangan karyawan sebagian besar beragama Katolik, maka Yayasan Unpar menyediakan sebidang tanah 700 m2 untuk keperluan tempat pertemuan umat disekitarnya.
Secara kebetulan lokasi tersebut berdekatan dengan perumahan TNI AU Lanud Husein Sastranegara, Bandung. Berbekal keinginan dan tekad yang kuat setegar batu karang serta diteguhkan oleh Sabda Yesus “ Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat 16:18), maka umat lingkungan sekitar waktu itu bersama warga AURI dengan gigih dan bahu-membahu memulai untuk mendirikan gereja dengan membentuk panitia Pembangunan yang dimulai Oktober 1983. Dengan semangat ini, sekalipun menghadapi berbagai tantangan, umat tetap berjuang karena mereka yakin akan tugas perutusan yang mulia dari Tuhan Yesus dalam Sabda-Nya tersebut di atas. Akhirnya Gereja selesai dibangun Desember 1984 dengan luas bangunan 360 m2 yang dapat menampung kurang lebih 400 umat. Gereja Stasi Sukawarna ini diberkati oleh Mgr Alexander Djajasiswaja, Pr pada tanggal 17 Agustus 1985. Santo Theodorus ditetapkan sebagai Santo Pelindung pada tanggal 13 Februari 1988 oleh Pastor Leo van Beurden, OSC. Pada tanggal 6 Oktober 2018, gereja Paroki St Theodorus diresmikan oleh Mgr Antonius Subianto, OSC dengan 4 wilayah 16 lingkungan dan jumlah umat menurut SIMU waktu itu 2.055 umat.
Refleksi kita selanjutnya akan berpijak pada sejarah umat paroki dalam menghadapi dan mengatasi situasi pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak ditetapkan oleh pemerintah pada bulan Maret 2020. Ibarat bayi baru lahir satu setengah tahun masih tertatih dan mulai menata menyambut hidup baru, namun sudah dihadapkan pada peristiwa yang cukup mengguncangkan sekaligus menantang iman umat beriman di paroki.
Kerinduan hidup baru sebagai paroki yang baru lahir 6 Oktober 2018 tidak terlepas dari harapan untuk bertumbuh semakin matang dan dewasa sebagai umat beriman. Berbekal iman dan relasi kasih yang guyub antar umat beriman selama itu sebagai umat stasi, umat memberanikan diri untuk menerima perutusan dari Bunda Gereja untuk keluar dari zona nyamannya selama ini dan ditantang untuk bertumbuh menerima hidup baru sebagai paroki yang mandiri, matang, dewasa, sekaligus bijaksana.
Namun apa daya, sejarah berkehendak membentuk kita bukan dengan cara yang mudah namun melalui cara yang militan dan tangguh. Pandemi tahun 2020 sampai 2021 dengan cepat mengisolasi kita dari relasi kehidupan umat beriman yang selama ini yang menempatkan ruang sosial komunitas gereja sebagai titik temu kita bersama sebagai sesama umat maupun dengan Tuhan melalui Perayaan Ekaristi. Titik temu tersebut menjadi pindah ke ruang pribadi di rumah masing-masing secara online merindukan Perjamuan Ekaristi menyantap Tubuh dan Darah Kristus, Tuhan kita yang menghidupkan dan menghidupi hidup kita selama ini. Sungguh kita bisa merasakan situasi umat Allah pada saat masa pembuangan Babel yang menuntut refleksi pertobatan kita terutama atas perlakuan kita pada alam semesta dan seisinya. Ensiklik Bapa Suci Laudato Si sungguh relevan direnungkan dan dihayati pada masa pandemi tersebut.
Pada 21 Maret 2020 paroki kita mulai meniadakan semua kegiatan kegerejaan yang melibatkan banyak orang termasuk misa, berdasarkan Surat Gembala dari Keuskupan Bandung. Keuskupan Agung Jakarta dan Semarang telah terlebih dahulu meniadakan semua kegiatan kegerejaan yang melibatkan banyak orang. Puji Tuhan, paroki kita dengan sigap secara inovatif memfasilitasi kerinduan umat untuk merayakan Ekaristi melalui channel Youtube yang dikelola oleh para OMK (Orang Muda Katolik), sampai ada humor bahwa umat Katolik saat itu benar-benar merayakan Ekaristi bersama dalam gereja yang satu yang bernama paroki Santo Yutube. Ruang keluarga yang sering kosong karena kesibukan masing-masing anggota keluarga dan semula hanya untuk kegiatan rekreasi menonton TV dan sebagainya, saat itu telah berubah ditata sedemikian rupa menjadi altar gereja ecclesia domestica yaitu keluarga kristiani sebagai sel terkecil gereja universal. Umat diajak untuk menarik diri sementara waktu dari hiruk pikuk relasi dengan dunia luar dan masyarakat secara fisik, namun lebih diajak untuk mundur hening sejenak melakukan retreat bersama keluarga yang selama ini mungkin justru lebih sering jauh secara fisik maupun psikis. Seperti halnya Tuhan Yesus yang sering mengajak murid-murid-Nya untuk naik ke bukit atau gunung yang sepi agar bisa lebih mendengarkan suara Bapa, demikian juga kita selama masa pandemi tersebut seolah ditarik oleh Bapa untuk lebih banyak mendengarkan suara Tuhan bersama anggota keluarga di rumah serta bersama-sama mengungkapkan iman melalui perayaan misa live streaming sebagai satu sel terkecil gereja, yaitu keluarga.
Keheningan yang kita alami saat situasi pandemi waktu itu sesungguhnya merupakan anugerah bagi umat manusia di satu sisi, selain rasa sedih dan kuatir akan masa depan kelangsungan hidup kita di sisi yang lain. Kepasrahan kita akan belas kasih dan pemeliharaan Allah sungguh terasa masa itu. Sungguh kita manusia menyadari ketidakberdayaan kita bahwa tanpa bantuan campur tangan Allah kita tidak bisa mengatasi situasi pandemi ini. Sungguh Tuhan mengajak kita semua masuk dalam retreat maha agung seluruh dunia. Keheningan ini, dari perspektif iman dan litugi, merupakan modal dasar kita untuk bisa mengalami persatuan yang intim satu pribadi dengan yang lain, terutama dalam hal ini dengan pribadi Allah. Dengan situasi hening yang tercipta, kita bisa lebih peka mendengarkan suara hati kita. Allah menyapa kita dalam rupa angin sepoi-sepoi, bukan angin besar, gempa, atau api, seperti halnya yang dialami oleh Nabi Elia di Gunung Horeb. Keheningan semasa pandemi ini pula yang diharapkan memulihkan persatuan antar anggota keluarga, menguji dan mengasah kesatuan hati anggota keluarga satu dengan yang lain dalam menghadapi tantangan pandemi ini dengan sehati sejiwa. Keheningan ini mampu membawa kita kepada proses communion, yaitu kesatuan kita dengan Allah Sang Pencipta, bila kita sungguh mau mengenali dan menggunakan rahmat keheningan ini.
Langkah iman selanjutnya yang umat lakukan setelah mengalami persatuan lebih intim dengan Allah dalam keheningan ini (communion), maka umat bersatu padu sehati sejiwa bergerak bersama komunitasnya, baik itu komunitas lingkungan, kategorial, dan lain sebagainya. Langkah iman ini kita sebut community, berkomunitas, bergerak bersama sekelompok pribadi yang mempunyai kesamaan visi dan misi, terutama setelah disentuh oleh
hubungan erat dengan Allah dalam keheningan tadi. Saat situasi pandemi tersebut, Rm Sumardi, OSC mendampingi umat Allah secara lebih intens dengan masuk ke setiap grup komunitas lingkungan untuk peran pastoralnya sebagai gembala, mengarahkan dan meneguhkan iman, harapan, serta belas kasih umat. Atas bimbingan Rm Sumardi, OSC tersebut, umat bisa mengejawantahkan dengan baik gerak batin iman mereka dalam meneguhkan harapan para terdampak pandemi yang mengalami kesulitan baik secara kesehatan, ekonomi, maupun sosial. Peran komunitas ini sangat besar dalam meneguhkan iman dan harapan serta memupuk rasa empati dan belas kasih yang tumbuh selama ini di hati umat sehingga terjadilah gerakan belarasa. Gerakan belarasa ini tidak hanya untuk umat tapi untuk seluruh masyarakat. Di sinilah seluruh proses yang berawal dari communion (kesatuan dengan Allah) dan diteguhkan dalam proses community (komunitas iman, harapan, kasih) yang akhirnya berbuah dalam proses ministry, yaitu pelayanan.
Sekiranya kita boleh menengok beberapa batu tonggak sejarah ke belakang pada masa pandemi tersebut, maka kita boleh menghadirkan kembali perasaan kita saat itu mengalami perjuangan dalam menghidupi tahap-tahap communion, community, dan ministry tersebut sebagai bekal ke depan. Tahap-tahap tersebut boleh kita pahami sebagai tahapan communion (komuni, dipilih & diberkati, penuh iman bersatu dengan Allah ), community (komunitas, dipecah, diteguhkan dalam komunitas harapan ), dan ministry (kesempatan melayani, dibagi, mempersembahkan korban silih & kasih). Berbekal refleksi tahap-tahap rohani tersebut di atas, semoga kita makin bertumbuh dalam melayani umat di paroki kita ini dengan iman yang semakin militan dan dengan karya yang semakin inovatif.
Sepanjang sejarah gereja, baru kali ini Paskah dirayakan secara online live streaming di seluruh dunia pada April 2020. Umat serasa masih merayakan Paskah Perjanjian Lama, di mana umat beriman masih menerima komuni batin, masih merindukan kehadiran Kristus secara nyata di dunia, dalam rupa Tubuh dan Darah-Nya. Namun demikian, proses communion di atas sungguh menjaga dan merawat relasi kedekatan kita dengan Allah Bapa melalui Roh Kudus. Pada bulan Mei 2020, mulai banyak digunakan aplikasi Zoom Meeting dan sejenisnya untuk memfasilitasi umat dalam berkomunikasi dan berkomunitas saling berdoa bersama, mengadakan pertemuan lingkungan, dan sebagainya saling meneguhkan iman, harapan dan kasih. Allah Roh Kudus sungguh berkarya nyata dalam umat-Nya.
Puji Tuhan, setelah tiga bulan penuh kita merindukan komuni, Tubuh dan Darah Kristus, mulai bulan Juni 2020 kita diperbolehkan oleh pemerintah maupun keuskupan untuk mulai mengadakan Ekaristi dengan kehadiran umat meski dengan berbagai batasan Adaptasi Kenormalan Baru (AKB) mulai dari jumlah umat, usia dan kriteria umat yang tidak rentan kesehatannya, serta syarat adminisratif lainnya demi keselamatan umat bersama. Memang belum banyak umat yang bisa kembali hadir secara tatap muka di gereja untuk merayakan Ekaristi bersama dan menyambut komuni. Kebanyakan umat masih memilih untuk mengikuti misa secara online atau live streaming dengan berbagai alasan, terutama kekuatiran akan kesehatan.
Januari 2021, vaksinasi mulai diberikan kepada para Tenaga Kesehatan dan berlanjut di Maret 2021 kepada masyarakat umum secara bertahap. Dosis kedua mulai diberikan sekitar April 2021 dan selanjutnya. Setelah pemberian vaksinasi tersebut, umat berangsur-angsur mulai menghadiri perayaan Ekaristi secara tatap muka untuk menyambut Tubuh dan Darah Kristus. Meskipun begitu masih banyak yang belum berani berinteraksi sosial secara
tatap muka, bahkan dunia kerja dan dunia pendidikan pun masih banyak yang mengandalkan perjumpaan virtual atau online. Misa mulai banyak dihadiri umat secara tatap muka mungkin baru sekitar akhir tahun Natal 2021 dan mulai tahun 2022 paroki gencar mensosialisasikan umat agar kembali Ekaristi secara tatap muka menyambut Tubuh dan Darah Kristus, serta dimulainya pelayanan komuni untuk orang sakit oleh para asisten imam.
Spiritualitas Ekaristi umat sungguh teruji saat menghadapi situasi pandemi tadi. Apakah kita masih berjuang di penghayatan Ekaristi sekedar sebagai kewajiban kita saja sebagai umat beriman di mana kita hadir hanya karena takut akan sangsi sosial? Atau kah sungguh Ekaristi sudah merupakan sumber dan puncak kehidupan iman kristiani kita. Paling tidak apakah kita sungguh merasakan Ekaristi sebagai suatu kebutuhan tidak sekedar kewajiban. Kebutuhan akan rahmat Tuhan yang kita dambakan melalui doa-doa kita saat kita membutuhkan bantuan Ilahi, tidak sekedar kebutuhan akan hiburan (entertainment) dengan berpindah-pindah channel youtube “menonton” live streaming bahkan siaran ulang Ekaristi, terutama homili atau lagu-lagu koor. Semoga dengan bantuan Roh Kudus kita semua boleh memperoleh rahmat merindukan Ekaristi karena kita mencintai Kristus sehingga rindu akan perjumpaan dan persatuan dengan Kristus yang menyelamatkan kita. Semoga dengan melalui proses “communion” dalam perayaan-perayaan sakramen terutama Ekaristi ini, sungguh semakin membawa kita menjadi semakin manusiawi (melalui proses evolusi humanisasi) dan akhirnya menjadi semakin ilahi seperti para kudus (proses evolusi divinisasi), sehingga tidak berhenti pada proses hominisasi saja (proses evolusi Teori Darwin) yang berpuas diri sebagai spesies homo sapiens yang meski lengkap dengan tubuh, jiwa, dan roh namun masih berpusat pada diri sendiri, belum pada Allah Sang Pencipta kita.
Dengan ber-anamnese bersama ini, semoga kita bisa semakin menghayati Ekaristi sungguh sebagai suatu peristiwa Paskah yang nyata, peristiwa keselamatan serta penebusan yang dihadirkan “kembali” dalam ruang dan waktu kita dalam seluruh perayaan liturgi Ekaristi.
Apa yang kita Imani dalam hati dan jiwa kita (Lex Credendi) sungguh terungkap dengan baik melalui seluruh kemampuan akal budi dan panca indera kita (Lex Orandi) yang akhirnya berbuah melimpah menggerakkan kehidupan kita sehari-hari dengan penuh sukacita (Lex Vivendi).
Liturgi sebagai peristiwa keselamatan pertama-tama mau menegaskan bahwa apa yang tampak dan kelihatan melalui segala hal yang menjadi simbolisasi itu (Lex Orandi) mau mengungkapkan yang tak kelihatan, yakni isi batin : misteri penebusan Tuhan yang hadir (Lex Credendi). Isi batin itulah yang kita rayakan. Sedangkan isi batin, yakni Misteri Paskah, tersebut diungkapkan melalui berbagai simbolisasi yang kelihatan dan bisa dirasakan oleh panca indra kita dalam liturgi dan akhirnya menghidupi seluruh peri kehidupan kita (Lex Vivendi).
Sekian sekiranya refleksi sejarah paroki kita selama lima tahun ini dalam perspektif liturgi yang boleh kita kunyah dan cerna bersama-sama.
Sejarah haruslah menjadi sumber semangat hidup bagi para ahli waris sejarah yang hidup sekarang maupun di masa mendatang. Ia adalah guru yang menawarkan dan mengajarkan nilai dan pesan kehidupan. Ia adalah sumber air kehidupan yang menyegarkan dan menghidupkan mereka yang berkenan meminumnya.
Perayaan lustrum pertama paroki ini dapat menjadi kesempatan untuk menggali pesan-pesan sejarah dan menghidupinya sebagai bagian dari misi tugas perutusan kita dalam mengembangkan Bunda Gereja mewartakan kabar sukacita keselamatan dari Allah.
Pertanyaan-pertanyaan refleksi yang konkrit bagi kita :
Apakah arti sejarah hidup kita bila ditempatkan dalam kerangka sejarah gereja atau sejarah umat beriman selama ini ? Apakah komitmen dan kontribusi konkrit kita? Sebagai apakah kita ingin dikenang dan tidak dilupakan dalam sejarah paroki kita?
Semoga dengan ber-anamnese bersama dalam perayaan lustrum ini, kita semua semakin diteguhkan dalam iman, harapan, dan cinta kasih akan Tuhan kita Yesus Kristus.
Proficiat umat paroki St Theodorus, Sukawarna, Bandung. Dirgahayu paroki St Theodorus, Keuskupan Bandung. Berkah Dalem.
Ignatius Setyawan
Bidang Liturgi DPP St Theodorus

